Detail Berita

Pengangguran, Infrasktruktur hingga Pemasaran Hasil Laut

Kamis, 22 Maret 2018 | Oleh: Humas DPRD Prov
Pengangguran, Infrasktruktur hingga Pemasaran Hasil Laut

Teks foto: Juru bicara Daerah Pemilihan (Dapil) Bontang, Kutai Timur, dan Berau Zain Taufik Nurrohman saat membacakan laporan hasil reses dapil-nya dalam Rapat Paripurna ke-4 DPRD Kaltim, Rabu (21/3).

SAMARINDA. Juru bicara Daerah Pemilihan (Dapil) Bontang, Kutai Timur (Kutim), dan Berau Zain Taufik Nurrohman menyampaikan, banyak aspirasi yang terima Anggota DPRD Kaltim saat melaksanakan reses atau serap aspirasi masyarakat secara langsung pada 12-20 Februari 2018.

Hal itu disampaikannya saat membacakan laporan hasil reses dapil-nya dalam Rapat Paripurna ke-4 DPRD  Kaltim, Rabu (21/3).

Adapun aspirasi yang diterima diantaranya terkait pengangguran, infrasktruktur hingga pemasaran hasil laut.

Seperti di Bontang, masyarakat berharap ada perhatian dari Pemerintah Kota Bontang untuk membuat program pembinaan terhadap anak-anak pengangguran.  Agar mereka bisa mendapatkan kegiatan yang positif, pasalnya hingga saat ini banyak perusahaan di Bontang yang melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan yang berdampak pada banyaknya pengangguran di Kota Taman tersebut.

“Banyak masyarakat yang mengadukan kepada kami terkait masalah pengangguran tersebut.   Mereka meminta pemerintah menyediakan lapangan  pekerjaan agar dapat mengurangi jumlah pengangguran yang ada dan memberikan pelatihan-pelatihan mengenai ketenagakerjaan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia yang handal,” ucapnya.

Sementara itu terkait masalah infrastruktur menjadi keluhan masyarakat Kutim. Pasalnya banyak jalan rusak di Kutim yang menyebabkan jalan berdebu bila musim panas dan jalan becek pada saat hujan.

“Karena itu sangat mengganggu bagi masyarakat yang ada disekitarnya,  begitu juga untuk jalan-jalan gang agar dapat diperjuangkan untuk dilakukan perbaikan,” katanya.

Selanjutnya, keluhan terkait pemasaran hasil tangkapan laut hadir dari masyarakat Kabupaten Berau.  Terutama di daerah yang memiliki potensi kepesisiran dan kelautan. Dimana di daerah tersebut didominasi nelayan tradisional. Sebagai  daerah pesisir, hasil tangkapan laut melimpah yang mereka dapatkan  juga bisa menjadi persoalan.

Salah satu persoalan yang mendasar adalah tidak adanya akses yang memadai terkait pemasaran hasil produksi tangkapan laut serta teknologi pengolahannya.

“Terkait hal itu masyarakat mengharapkan adanya teknologi yang mendukung sektor perikanan. Salah satunya adalah kapal nelayan dengan kapasitas besar, pabrikes (cool stroge) dan setra pelabuhan ikan (SPI),” tuturnya.  
(hms3)